Breaking News
Home / Destinations / Kain Gringsing Tenganan Desa Bali Aga Tenganan
kain gringsing
kain Gringsing merupakan satu-satunya kain tenun tradisional yang menggunakan teknik dobel ikat

Kain Gringsing Tenganan Desa Bali Aga Tenganan

Kain Gringsing Tenganan

Kekaguman kami pada Tenganan seakan tiada habisnya. Selain keserasian antara alam, masyarakat, sejarah, budaya, dan arsitekturnya, masih ada satu keunikan lagi yang tersisa, yaitu kain Gringsing. Kain ini merupakan satu-satunya kain tenun tradisional yang menggunakan teknik dobel ikat. Proses pembuatan kain gringsing dari awal hingga akhir dikerjakan dengan tangan.

Benang yang digunakan merupakan hasil pemintalan tangan dengan alat pintal tradisional. Benang tersebut berasal dari buah kapuk berbiji satu yang didatangkan dari Nusa Penida. Setelah dipintal, benang kemudian direndam menggunakan minyak kemiri. Selanjutnya adalah proses ikat dan pewarnaan. Perendaman bisa memakan waktu hingga satu tahun. Tergantung seberasa tinggi kualitas benang yang diinginkan. Semakin lama perendaman, benang akan semakin kuat dan lembut.

Beruntung, kami dapat menyaksikan proses perendaman yang dilakukan di salah satu rumah “Tenganan Traditional Demonstration” milik ibu Made (49). Rumah itu terletak tepat di seberang balai banjar Desa Tenganan. Ketika itu kami melihat pintalan benang yang direndam dalam ember kecil dengan dominasi warna kuning pudar. Menurut penuturan ibu Made, warna kuning didapatkan dari buah kemiri yang telah masak dan jatuh ke tanah, untuk kemudian dibuat menjadi minyak.

Kain Gringsing sendiri hanya mengenal tiga warna, yaitu kuning, merah, dan biru. Warna merah diperoleh dari kayu sunti dan warna biru diperolah dari daun taum. Kedua bahan pewarna itu berasal dari Tenganan. Sebagai salah satu dari puluhan pengrajin kain tenun ikat Gringsing, Made telah memulainya sejak berusia 14 tahun. Generasi Made lebih memilih menenun daripada meneruskan sekolah. Berbeda dengan generasi sekarang yang lebih memilih keluar dari desa dan pergi ke tempat lain seperti Denpasar, untuk sekolah. Tenun Gringsing berada dalam kondisi dilematis.

Di satu sisi tak bisa menahan laju modernitas melalui pendidikan. Di sisi lain, eksistensinya terancam punah.
Made menuturkan terdapat 23 motif kain Gringsing. Namun, Made hanya mengingat beberapa saja, yaitu Baton Cagi yang berbentuk seperti biji asam, Lubeng, Cempaka, Semplong, Teteladan, dan Opare. Tenun ikat ganda memiliki kerumitan lebih dibanding tenun ikat tunggal biasa. Motif sudah direncanakan sejak pembuatan warna pada benang. Dalam menenun Gringsing sendiri dikenal 2 macam benang, vertikal atau lusi dan horizontal atau pakan.

Kedua benang itu memiliki warna yang berbeda dan harus ditenun sesuai dengan motif yang telah direncanakan.
Bagi Made, menenun bukanlah sebuah pekerjaan dengan tujuan material semata. Made begitu menyatu dengan alat tenunnya. Jari-jari lentiknya menghidupkan warna hingga membentuk motif rumit nan indah. Bagaikan ritual rutin yang telah dijalaninya sejak berusia 14 tahun, Made kembali pada alat tenunnya ketika kami pamit pulang.

Check Also

kapal motor penumpang muria

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan – Kita hidup di negara kepulauan, tetapi transportasi penghubung antarpulau masih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.