Breaking News
Home / Destinations / Menyemai Sejarah dari Museum Benteng Heritage

Menyemai Sejarah dari Museum Benteng Heritage

Suatu ketika, pasukan Cheng Ho mendarat di Teluk Naga yang ada di barat Jakarta. Di sana, mereka menyebar ke berbagai daerah yang sekarang kita sebut sebagai Kota Tangerang. Mereka menikahi pribumi. Keturunan merekalah yang kini sering disebut sebagai ‘Cina Benteng’ Tangerang.

Cheng Ho adalah panglima asal negeri Tiongkok yang berlayar ke Nusantara dalam rangka perdagangan. Panglima Islam ini pertama kali datang ke Nusantara sekitar abad ke-15. Dia membawa ribuan pasukan laki-laki dai tanah Tiongkok. Pasukan tersebut menyebar ke berbagai daerah di pesisir utara Jawa.

Disebut ‘Cina Benteng’ karena mereka mendiami sebuah daerah di Tangerang yang dikelilingi oleh benteng. Namanya Benteng Makassar, yang dibangun oleh VOC pada 1739. Dahulu, benteng ini dijaga oleh orang-orang Makassar yang ditawan Belanda. Itulah mengapa benteng ini disebut sebagai Benteng Makassar. Kini, nama Benteng Makassar juga diabadikan sebagai salah satu jalan di Kota Tangerang.

Cerita singkat itu menjadi pengantar saat tim EKSPEDISI MAGAZINE mengunjungi sebuah museum di kawasan Pasar Lama, tengah kota Tangerang pada akhir Oktober. Belum banyak masyarakat yang tahu kalau di sana ada sebuah museum yang memiliki kisah sejarah penting tentang kota Tangerang. Museum itu bernama Museum Benteng Heritage. Lokasinya sedikit mengecoh orang. Setiap harinya, di depan museum ramai pedagang yang berjualan. Ya, memang lokasinya berada di dalam pasar. Penanda adanya sebuah museum di sana adalah terdapat klenteng tertua di Tangerang yang bernama Boen Tek Bio.

Museum Benteng Heritage berbentuk seperti bangunan berarsitektur Cina biasa. Hanya terdapat sebuah penanda kecil bertuliskan “Museum Benteng Heritage”. Ketika kami berkunjung, museum dalam keadaan sepi dari pengunjung. Hanya ada dua orang wisatawan domestik dan seorang wisatawan asal Thailand. Harga tiket bagi pengunjung domestik sebesar Rp 20.000 dan wisatawan mancanegara Rp 50.000.

Di dalam rumah yang terdiri dari dua lantai tersebut, disimpan berbagai koleksi yang berhubungan dengan etnis Tionghoa. Museum tersebut dahulu adalah sebuah rumah yang digunakan  oleh perkumpulan dagang etnis Tionghoa. Rumah itu diperkirakan ada sejak abad ke-15. Berdirinya berbarengan dengan klenteng Boen Tek Bio yang berada di sisi selatan museum. Di lantai dasar, pengunjung dapat melihat beberapa foto dan lukisan yang menggambarkan keadaan museum kala abad ke-15. Isinya berupa bangunan-banguan penting di Tangerang, seperti stasiun dan bioskop. Stasiun itu sendiri masih berfungsi hingga sekarang, sedangkan bioskop sudah lama tutup dan berganti menjadi bangunan lain.

Perjalanan kami bermula di sebuah ruang makan sekaligus ruang keluarga. Ruangan itu biasanya disewakan sebagai tempat rapat dan acara keluarga. Kemudian di sisi kanan ruangan tersebut, pemandu kami menunjukkan sebuah prasasti yang menempel pada dinding rumah. Prasasti tersebut bernama Prasasti Tangga Djamban yang bertuliskan aksara cina.

Menurut prasasti tersebut, orang Tionghoa mendarat ke pusat kota Tangerang lewat Sungai Cisadane sekitar tahun 1800-an. Untuk naik ke daratan, mereka menggunakan sebuah tangga yang sekarang dikenal sebagai Tangga Djamban. Tangga ini sampai saat ini masih dipakai oleh masyarakat kota Tangerang untuk turun ke sungai Cisadane. Orang-orang Tionghoa pada waktu itu berjumlah 81 orang. Mereka dengan sukarela mengumpulkan uang sebanyak 18.156 ringgit sebagai modal pembuatan 30 jalan. Jalan-jalan tersebut kini menjadi jalan-jalan besar di pusat kota Tangerang.

Kami bertemu dengan Hendra, salah seorang pengurus museum. Ketika kami meminta Hendra untuk membaca isi Prasasti Tangga Djamban, sontak Hendra menolak. “Mata saya memang sipit, kulit saya putih, tetapi saya orang Indonesia. Hanya dalam darah saya saja yang mengalir darah Tionghoa. Saya orang Indonesia, berbahasa Indonesia, dan tidak memiliki kemampuan untuk berbahasa ataupun membaca tulisan Cina ini,” tegasnya.

Perjalanan kami lanjutkan ke lantai dua museum ini. Lantai dua ini menggunakan kayu jati asli sebagai alasnya. Tangga yang kami gunakan untuk naik ke lantai dua juga menggunakan kayu jati. Tepat di sebelah tangga, terdapat sebuah etalase berisi beberapa uang koin. Koin-koin tersebut merupakan mata uang yang digunakan oleh orang Tionghoa. Ukurannya sangat besar, berbeda jauh dengan uang koin pada masa kini. Di antara koin tersebut, ada sebuah koin yang ditemukan di sebuah sungai di Inggris. Alkisah saat itu Kerajaan Banten telah menjalin kerja sama di bidang perdagangan dengan Kerajaan Inggris.

Di tengah perbincangan kami, Hendra mengajak ke beranda museum. Seperti umumnya rumah orang Tionghoa, di sisi kanan dan kiri pintu terdapat meja abu. Pintu yang dipakai adalah pintu bersitektur Cina-Belanda. Pandangan kami tertuju pada sebuah balok kayu yang dipasang di bawah daun pintu. “Balok tersebut sengaja dipasang di pintu, supaya orang yang masuk ke dalam rumah membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan kepada dewa penjaga rumah,” kata Hendra.

Beranjak ke ruangan selanjutnya, kami melihat sebuah gebyok yang menyatu dengan lantai dasar. Di bagian atas gebyok terdapat relief dari keramik yang menceritakan tentang kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Nusantara. Relief tersebut masih dipertahankan keasliannya. Sebelum rumah tersebut direstorasi menjadi museum, banyak kolektor benda antik yang berminat membeli koleksi museum. Namun, pihak ahli waris rumah menolak. Kini, pihak museum juga tengah mendaftarkan museum Benteng Heritage sebagai cagar budaya nasional. “Kami tidak ingin sejarah Tionghoa di Tangerang hilang begitu saja. Lihat, rumah Tionghoa di sekitar kami kini berubah menjadi ruko yang atapnya hanya dijadikan sarang burung walet,” ujar Hendra.

Perjalanan kami tutup di sebuah toko cinderamata kecil yang disediakan oleh museum. Toko tersebut menjual berbagai buku, antara lain sejarah Tionghoa, buku motivasi dagang orang Tionghoa, dan resep makanan. Ada juga kaos dan kebaya encim atau kebaya peranakan Tionghoa.

Check Also

kapal motor penumpang muria

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan – Kita hidup di negara kepulauan, tetapi transportasi penghubung antarpulau masih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.