Breaking News
Home / Trivia / Culinary / Nano-Nano Rasa Rujak Kuah Pindang

Nano-Nano Rasa Rujak Kuah Pindang

Namun, agak miris juga. Saat saya bertanya dengan Ni Wayan Suryani soal ikan kucing yang semakin sulit dijumpai. “Di pasar-pasar memang ada, namun bukan ikan segar, tidak diambil dari laut selatan Bali. Mungkin disetor dari luar Bali. Dulu ikan banyak, tetapi kata orang sekarang laut di selatan Bali tak berikan lagi, sudah rusak habitatnya,” ujar Ni Wayan Suryani. Saya jadi ingat, setelah berhari-hari menyusuri pantai selatan di Bali. Melihat berhektar-hektar  mangrove yang dipangkas, ekosistem laut bawah Jalan Tol Laut Ngurah Rai yang mati menghitam, atau reklamasi pantai Pandawa yang terkesan memaksa.

Saya melontarkan pertanyaan ke teman-teman.Mereka yang sedang duduk berkomunal, sembari menikmati kuah pindang dan mulut-mulut yang kepedasan. Apakah ini dampak Globalisasi? Sampai untuk mencari makanan khas Bali selatan saja sesusah ini? Tidak adaikan?.Teman-temanhanya nyengir, bisa jadi mereka mengiyakan. Bersama dengan semangkuk Rujak Kuah Pindang itu kami akhirnya berceloteh sana-sini. Menggosip Globalisasi di Bali. Menyinggung isu-isu sosial dan lingkungan. Dan menghabiskan kuah terakhir dengan rasa kebersamaan.

 

Check Also

Suasana malam kudus

Malam Kudus di Kota Kudus

Banyak orang mengenal Kota Kudus karena industri kreteknya yang terkenal. Pabrik- pabrik besar skala nasional …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.