Breaking News
Home / Destinations / Nostalgia Di Kota Tua buleleng
buleleng
kota tua Buleleng

Nostalgia Di Kota Tua buleleng

Nostalgia di kota tua buleleng – “Bali benar-benar dimanjakan alam. menikmati kehangatan tropis tanpa udara gerah dan tidak membuat lelah. Semua itu karena wilayahnya yang terbilang kecil, -5.500 kilometer persegi- dengan tekstur tanah yang landai dan nyaris seragam hingga ke bagian utara dan selatan serta akibat lanskap terbuka ditemani sejuknya angin laut”.

Gregor Krause dalam bukunya yang berjudul Bali (1920) dan diterjemakan oleh W.H. Mabbet pada 1988, berisi kisah pengalaman perjalanannya ke Bali pada awal abad ke-20. Krause bagai tersirih dengan keindahan alam yang dimiliki Bali. Kesan yang dirasakan pelancong Eropa hampir seratus tahun yang lalu itu, hampir sama dengan yang saya rasakan. Semilir angin sore hari menyapa kedatangan saya di Buleleng, sebuah kota tua di bagian paling utara pulau Bali

Buleleng, Simbol Keberagaman di Bali

Berbeda dengan daerah lain di Pulau Bali. Di Buleleng, suara adzan bersahut-sahutan. Masjid dan komunitas muslim bahkan menempati salah satu daerah di jantung kota Singaraja. Sebuah bangunan masjid tua lengkap dengan menaranya bergaya arsitektur indis menyerupai menara di gedung bekas kantor pemerintahan Hindia Belanda. Masjid Nur itu berada di jalan Erlangga, tidak jauh dari bekas pelabuhan Buleleng. Menandakan bahwa komunitas Muslim merupakan bagian dari sejarah peradaban di Buleleng.

Beberapa meter di sebelah timur, terlihat warna merah menyolok yang berasal dari bangunan peribadatan umat Tri Dharma, Ling Gwan Kiong. Ornamen berwarna paduan merah dan kuning keemasan mendominasi hiasan yang ada di Ling Gwan Kiong. Patung singa berpasangan seolah menjaga setiap pintu masuk ke area peribadatan tersebut. Singa itu dibuat selalu sepasang sebagai hiasan bangunan di kebudayaan Cina

Check Also

kapal motor penumpang muria

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan – Kita hidup di negara kepulauan, tetapi transportasi penghubung antarpulau masih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.