Breaking News

Berdampingan dalam Damai

Dua buah tempat ibadah beda kepercayaan rapat berdampingan di Jalan Enggano, Kompleks Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Masjid al-Muqarrabiin dan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud Mahanaim.

vakantie.id Jarang ditemui dua tempat ibadah bisa berdampingan dan tetap terjaga silaturahmi antarumat beragama di wilayah itu.
Hadirnya dua tempat beribadah ini tidak lepas dari sejarah para pelaut yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok.
Pelaut pun butuh asupan spiritual. Saat kapal melempar tali sauh untuk ditambatkan di pelabuhan setelah berbilang bulan mereka berlayar, tiada sedikit dari mereka yang ingin mengucap syukur pada Tuhan. Terutama di sekitar tahun 1950 an mulai banyak berdatangan pelaut dari Sangihe, Talaud di Pelabuhan Tanjung Priok. Terutama pelaut beragama Kristen kesulitan mencari gereja karena pada saat itu di kawasan Tanjung Priok tidak ada gereja.
Maka, otoritas Pelabuhan Tanjung Priok pun memfasilitasinya, dengan cara mendirikan Gereja Kristen yang kini dikenal sebagai Gereja Masehi Injili Sangihe-Talaud (GMIST) Mahanaim. Gereja ini berdiri pada tahun 1957, atau 52 tahun yang lalu. Pada mulanya, para pelaut Sangihe, Sulawesi Utara yang memintanya dan bersetia menjadi jemaatnya kala mereka bersandar di Tanjung Priok
Satu tahun kemudian, pelaut muslim, dan juga asal Sangihe dan sekitarnya, turut meminta agar dibangun masjid guna melaksanakan ibadahnya. Lalu berdirilah sebuah masjid bernama Masjid Muqarrabiin, yang berdiri pada 1958.

Kunjungan Ibu Negara Sinta Nuriyah, M.Hum, istri Presiden Abdurrahman Wahid di lokasi Masjid Muqarrabin, bersama tokoh Gereja Mahanaim

Kini, Jalan Enggano tak sesepi 62 tahun lalu, bahkan terintegrasi dengan kompleks pergudangan, pabrik beserta jalanan lebar maupun tol yang terhubung hingga seantero Jawa. Aneka kendaraan, utamanya truk kontainer dan tronton menjadi raja jalanannya. Selain mobil pribadi maupun kendaraan umum yang siap mengantarkan para penumpang dalam urusannya di kawasan Priok.
Santer kabar bahwa demi perluasan prasarana pelabuhan, dua tempat ibadah historis ini akan dibongkar, dan ditukar guling dengan sarana serupa di kawasan yang lain.
Lambang Toleransi
Tentunya, dua pengelola tempat ibadah itu tidak setuju. Selain faktor kenyamanan dan pembiasaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dua bangunan itu bukan semata bangunan fisik, melainkan khazanah narasi tentang toleransi.
“Ya, kami sudah terbiasa menghormati umat Kristen yang ada di samping masjid,” ujar Haji Muhammad, imam rawatib masjid al-Muqarrabiin.
“Di masjid ini, tidak ada pengajian keras-kerasan, boleh-tidak boleh, bukankah begitu, kita ini kan perlu hablum minannaas, hubungan antarmanusia, ya saling menghormati. Mereka juga baik pada masjid, selalu berkomunikasi kalau ada hari besar keagamaannya yang kebetulan waktunya hampir berbarengan dengan hari besar umat Islam,” tambah Muhammad.
Tak ada narasi muluk-muluk dengan bahasa akademis dan diskursif, seperti radikalisme, antikebhinekaan, antipluralisme. Berdampingan dalam damai telah menjadi tindakan nyata tanpa jeda, seperti memberikan tempat parkir bagi jemaat gereja ketika mereka beribadah minggu, corong masjid tak diarahkan ke arah gereja, tahrim subuh (pujian kepada Allah, Nabi dan para mujahid) hanya 5 menit menjelang azan, berkoordinasi saat dua hari besar keagamaan jatuh saat atau hampir berbarengan.
Masyarakat di sekitar dua tempat ibadah itu tentu mengenal baik dan turut bertindak sesuai langgam toleransi yang telah biasa dilakukan oleh dua komunitas agama berbeda itu.
Tak heran pejabat Kemenag membawa tamunya dari Vatikan, pusat Gereja Katolik Roma, ke kedua tempat peribadatan tersebut.
Pendeta Abritha Indriati Lantemona Salendah, pemimpin GMIST Mahanaim menambahkan bahwa Ibu Sinta Nuriyah Wahid, istri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid pernah menggelar sahur on the road di masjid dan gereja yang berdampingan itu.
“Ibu Sinta Nuriyah (istri Presiden keempat RI, K.H. Abdurrahman Wahid) juga pernah kemari saat Ramadan 1440 H (2019) dalam rangka sahur on the road, yang diikuti oleh kedua pemeluk agama ” ujar Pendeta Abritha.
Pendeta juga menjelaskan saat bulan puasa, mereka juga menggelar berbuka bersama dengan membagikan makanan kepada masyarakat sekitar.
Bahkan saat hari Raya agama Islam seperti Idul Fitri atau Idul Adha, pihaknya selalu membuka komunikasi dengan pengurus masjid.
“Pas Idul Fitri tahun ini jatuh hari Minggu, maka kami tidak melakukan misa pagi. Kami melakukan misa siang dan sore hari. Karena paginya di halaman masjid penuh dengan warga akan melaksanakan salat Ied.

Kemudian saat gereja tidak ada kegiatan, warga diizinkan berdagang di sekitar halaman parkiran gereja.

Di tengah perkembangan zaman dan pembangunan terus berlanjut, ada wacana kedua tempat ibadah itu akan direlokasi. Karena akan ada penataan kawasan Tanjung Priok. Memang kalau dilihat dari arsitekturnya biasa saja. Memang saat ini jumlah jemaah terus bertambah. Apalagi tidak jauh dari dua tempat ibadah ini juga telah ada tempat peribadatan lebih besar dan luas.

Namun bila warisan intangible yang dikemukakan, dua tempat ibadah ini sarat dengan pelajaran toleransi dan perihidup yang mengutamakan harmoni, selama puluhan tahun. Sesuatu yang masih pantas digencarkan saat beberapa relasi beragama di Indonesia tengah tertatih mengeja kata perdamaian dan hidup berdampingan.
Tentu, ini menjadi pekerjaan rumah, khususnya, bagi pengurus Gereja Manaheim maupun Masjid Muqarrabiin untuk berbenah dan meyakinkan pihak otoritas pelabuhan bahwa realisasi ruitslag itu tidak perlu dan kontraproduktif. Bantuan dengungan warganet maupun kedua umat yang berkepentingan, baik langsung maupun tak langsung juga tak kalah pentingnya demi penyelamatan situs perdamaian ini.

Check Also

Handsanitizer

Handsanitizer Langkah Hidup Sehat dan Cegah Virus Corona

vakantie.id – Indonesia sampai dengan hari ini masih disibukkan dengan wabah virus corona yang berasal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.