Breaking News

Keroncong Tugu Melawan Zaman (1)

Sebuah rumah tua model Betawi tampak kontras dan anakronistis dengan wilayah sekitarnya yang dikepung oleh pergudangan, bangunan modern, truk-truk tronton, maupun truk kontainer yang hilir-mudik menuju dan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun jangan salah, di sini ada oasis kultural yang menghidupkan jiwa-jiwa kering metropolitan.

vakantie.id Rumah tua yang dibangun sejak abad ke-18 itu dan telah dipertahankan keasliannya hingga kini merupakan rumah penuh kenangan keluarga Michiels. Keluarga keturunan Portugis ini sangat lekat dengan kesenian kroncong morissco. Morissco awalnya sebuah tarian Portugis yang ditarikan dalam nada lambat.

Terlihat ringkih dimakan usia, namun rumah ini tegar menghasung zaman. Inilah penanda kultural yang sampai kini tetap hidup dan dihidupi oleh keluarga Michiels.

Bersama beberapa keluarga keturunan Portugis lainnya, yang kini tersisa 6 fams, yakni Michiels, Andreas, Abraham, Quiko, Cornelis, dan Browne, awal kedatangan mereka ke utara Jakarta ini dibawa VOC dari Malaka pada pertengahan abad ke-17. Oleh VOC, orang-orang ini ditempatkan di Tugu, tak lagi sebagai budak melainkan mardijkers, atau orang merdeka, yang kemudian membangun komunitas creol-nya.

Lisa Michiels, Manajer Krontjong Toegoe

Gereja Kristen Tugu menjadi tengara sekaligus saksi perpindahan keyakinan mereka ke dalam Kristen, agama yang dipeluk oleh orang-orang Belanda, pembawanya. Sedangkan pekuburan Kristen di kompleks Gereja  Tugu itu menjadi bukti jejak para leluhur komunitas Kristen Tugu.

Hari berganti, waktu pun mengubah kawasan itu, dari sebuah keramaian pelabuhan yang belum seberapa, menjadi gerbang pelabuhan utama Indonesia yang supersibuk dan hectic. Kini, keturunan Portugis ini telah menyebar, berdiaspora terkait terganggunya rasa nyaman.

“Sembilan saudara kandung papa sudah pindah ke Belanda, tinggal papa (almarhum) yang bertahan di sini,” terang Lisa Michiels, putri dari Arend Julinse Michiels yang kini menjadi manajer Krontjong Toegoe bagi saudara-saudaranya.

Demikian pula keluarga keturunan Portugis lainnya, yang telah berpindah ke wilayah di dalam maupun di luar Jabodetabek. Perubahan lingkungan dan mata pencaharian menjadi alasan utama perpindahan. Tanah-tanah mereka telah berpindah tangan seiring perubahan tata kota, sehingga daerah komunitas keturunan Portugis ini telah menjadi gerbang depan prasarana dan sarana perluasan Pelabuhan Tanjung Priok.

Hanya keluarga Michiels dan beberapa di antaranya yang tetap bertahan.

Di sela deru-debu truk-truk besar yang meramaikan jalanan, pergudangan yang sibuk memasukkan dan membongkar barang, mereka tetap menjaga tanah dan rumahnya, dan berkhidmat di jalurnya. Salah satunya, dan terpenting dalam memaknai kultur mereka, adalah dengan menghidupkan dan memuliakan musik keroncong. Dan di rumah tua itu pun masih terdengar suara musik keroncong Tugu yang telah berabad lampau dipertahankan. Tiap Jumat malam, mereka memainkan peralatan musik dan menyanyikan lagu-lagu keroncong Tugu yang tidak lekang dimakan zaman.

Beta datang ke Tanah Tugu

Indah permai nan elok rupanya

Candrabaga nama sungainya

Keroncong Tugu mengalun indah

Rumah Tuhan berdiri megah

Di tenggara Teluk Jakarta Raya

Hidup rukun dan sejahtera

Bersaudara semuanya

Tuhan jaga kita pe Tanah Tugu

Yang penuh liku-liku

Walau banyak onak dan duri

Kan kujaga sampai mati

(Kr Tugu)

Teks: Wakhid-Ndari; Foto: Erig

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.