Breaking News

Menelusuri Jejak Kejuangan Mohammad Natsir

Reruntuhan rumah bekas M. Natsir yang tinggal di Jalan H.O.S. Cokroaminoto 46 menjadi destinasi pamungkas kami dalam menelusuri jejak pahlawan nasional yang menggolkan mosi integral pada tahun 1950 ini.

vakantie.id Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, merupakan kawasan elite di mana para pejabat atau bekas pejabat RI (pernah) bermukim. Sebagian bisa dipertahankan oleh keturunannya, malah memperluasnya, sebagian telah menjualnya karena aneka alasan.

“Pak Natsir memang meminta kepada keluarganya agar rumah dijual saja bila hanya menjadi beban,” ujar Ustad Hadi Nur Ramadhan, aktivis muda Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) yang jadi pemandu wisata tokoh historis ini. Ia mendengar perkataan M. Natsir tersebut dari seniornya di DDII.

Dan tidak hanya sekali itu pengorbanan Natsir. Sedari muda, ia memang telah terbiasa memilih jalan kejuangan dakwah yang tidak pernah mudah.

Mohammad Natsir sebenarnya ulama besar dan berkaliber internasional. Namun tidak tersemat panggilan buya ataupun kiai haji. Orang cukup memanggilnya sebagai Pak Natsir.

Beliau bisa memiliki jalan hidup yang lebih mudah bila menginginkannya. Namun ada semacam cinta platonik pada anak-anak muda yang tumbuh dalam gempita perjuangan pergerakan dan sengatan nasionalisme kala itu. Menyakiti diri secara fisik dan mental, dan menukarnya dengan jiwa besar kejuangan dan kepentingan bangsa yang lebih besar.

“Boleh kalian mengambil bacaan dari Ikwanul Muslimun Mesir, atau Wahabi dari Saudi Arabia, atau Jamiat Eslami dari Pakistan, namun jangan kalian terapkan mentah-mentah. Sesuaikan dengan kondisi sosial, politik, dan kebudayaan Indonesia, yang telah memiliki akar sejarahnya sendiri,” ujar Hadi menirukan perkataan M. Natsir kepada pada kader dakwahnya.

Karena kegigihan dan kecerdasan pribadinyalah, M. Natsir mampu mengarungi HIS (Holland Inlansche School), setingkat SD, dan MULO (Meer Uitgebreid Lagere School), setingkat SMP, dengan beasiswa pemerintah. 

Berbekal beasiswa berkat nilai ujian MULO (Meer Uitgebreid Lagere School) Padang, setingkat SMP, ia yang masih belia tinggalkan negeri Minang, tempat kelahirannya. Natsir berlayar menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia, dan lalu diteruskan ke Bandung, demi menggapai cita-citanya belajarnya.

Jadilah anak muda putra pegawai kecil kolonial itu duduk di bangku AMS Bandung. Natsir merupakan anomali. Dengan strata sosial dan tentunya terkait dengan gaji orang tuanya, seharusnya Natsir tak mampu dan tak gampang memasuki lembaga persekolahan yang elitis dan diskriminatif kala itu.

Namun takdir telah berjalan dengan logikanya, Natsir menjadi bagian begitu kecil dari elite terpelajar bangsa, tulis M. Lukman Hakiem, penulis biografi M. Natsir.

Setamat AMS Bandung, ia ditawari beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Recht Hoge School atau Sekolah Tinggi Hukum di Batavia, bahkan ke Negeri Belanda. Dan ajaib. Ia kehilangan selera pendidikan akademiknya.

Bekas rumah M. Natsir yang tinggal puing dan sudah beralih kepemilikan

Panggilan kebangsaan sekaligus keagamaan Natsir ternyata jauh lebih kuat. Perkenalannya dengan Ahmad Hasan, seorang pengusaha dan guru agama sekaligus pendiri Persis (Persatuan Islam) semakin menguatkan arah kejuangannya.

Bersama istrinya, Nurnahar, Natsir mendirikan sekolah klasikal model Barat, namun dengan tambahan ilmu agama. Pernah ia terusir dari sekolahnya saat Natsir tak mampu membayar uang sewa, karena memang sekolah tersebut tidak untuk mencari keuntungan, melainkan perjuangan mendidik rakyat.

Kekuatan Natsir ada pada suaranya yang lembut, sebagaimana seorang ulama dan guru yang berlaku membimbing umat maupun muridnya, namun dengan prinsip sangat teguh dan konsisten bak batu karang bila sudah memperjuangkan aspirasi keislamannya.

Politikus senior PDIP, Sabam Sirait menyaksikan, bagaimana Aidit dan Natsir yang basis argumentasi ideologisnya bagaikan bumi dan langit, susah dipertemukan, namun saat rehat sidang parlementer, mereka bisa bertemu dan ngopi bareng dengan tawa dan canda.

Natsir pun dalam era Pergerakan Nasional di masa Pemerintah Kolonial Belanda, sempat berpolemik tajam dengan Bung Karno, perihal agama dan nasionalisme. “Hij is de man (dialah orang itu),” seru Bung Karno saat PM Sjahrir mengajukan nama M. Natsir sebagai bakal Menteri Penerangan. Teringat si Bung berpolemik sengit pada masa lalu. 

Torehan puncak politik Natsir adalah saat ia mengajukan “mosi integral”, yakni seruan untuk membubarkan negara federal RIS. Republik Indonesia Serikat (RIS) tetaplah dipandang sebagai proyek kolonialisme bagi perjalanan kemerdekaan bangsa.

Seruan itu diterima baik oleh negara-negara federal bentukan Belanda. Pada 17 Agustus 1950, berakhirlah Negara RIS untuk digantikan dengan negara kesatuan, yang kini lebih dikenal sebagai NKRI. Ada jejak dan torehan Natsir dalam mengembalikan bentuk Negara Kesatuan itu.

Check Also

Handsanitizer

Handsanitizer Langkah Hidup Sehat dan Cegah Virus Corona

vakantie.id – Indonesia sampai dengan hari ini masih disibukkan dengan wabah virus corona yang berasal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.