Breaking News

Tukang Roti pun Berjiwa Republiken (2)

Banyaknya toko roti di daerah-daerah juga memberi keuntungan bagi para pengelola toko. Variasi roti juga bertambah.

vakantie.id Sejarawan Heri Priatmoko menyebutkan, toko roti Ganep di Kota Surakarta, yang berdiri pada 1880-an memiliki jenis kue paling populer, yakni kue kecik. Kue ini terinspirasi dari sawo kecik yang banyak ditemui di Keraton Kasunanan yang dianggap sebagai pohon istana.

Sengaja atau tidak, menurut Heri, selain merujuk pada keteduhan dan irama alam yang terbaca dari lambaian daun sawo, dipilihnya nama kecik sebagai merek roti bisa mendekatkan dengan dunia anak-anak, pelaku dolanan kecik.

Kian kemari, variasi roti bertambah. Dan uniknya, memuat nilai filosofi. Semisal, roti kecik hasil garapan toko Ganep yang berdiri pada 1880-an.

Sawo kecik merupakan buah sawo yang buahnya mungil, sebesar rambutan dengan kulit polos-berkilat yang tipis dan mudah terkelupas. Berwarna kemerahan jika telah matang. Rasanya manis terkadang agak sepat dan bijinya bulat lonjong.

Biji sawo kecik bisa dipakai untuk dolanan. Daun pohonnya rindang, nyaman duduk di bawahnya di siang hari panas. Lantaran banyak dijumpai di Keraton Kasunanan, pohon sawo kecik ini dianggap sebagai pohon istana.

Urusan roti tidak hanya urusan orang-orang Eropa. Bahkan di za

Toko Orion di Solo ini didirikan pada tahun 1932, sebuah kesinambungan usaha keluarga yang liat

man penjajahan Jepang pun, toko roti memperoleh order membuat moci. Sedangkan tawanan Belanda setia dengan roti. Moci adalah makanan berbahan dasar tepung beras, dibentuk bulat dan di dalamnya berisi kacang kemudian dibalur dengan tepung kanji. Rasanya enak, empuk dan manis. Hingga kini moci masih dijumpai di jajanan pasar.

Pada era kedatangan Jepang dan terdesaknya pasukan Belanda, urusan perut tetap nomor satu. Heri menyebutkan bahwa di tengah tentara Belanda berlaga di medan perang, para penjajah ini berbekal tepung mendatangi pemilik toko roti. Tentara-tentara ini meminta toko roti bekerja sama dengan pihak Belanda, agar bisa memproduksi militaire bakkerij. Yakni roti yang dikonsumsi tentara Belanda bersama pegawai sipil kolonial.

“Tak banyak orang tahu, juragan roti tak mau menerima tawaran itu walau diimingi-imingi upah luar biasa jumlahnya. Bila mau, saban bulan bisa membeli mobil mercedes dengan jumlah upah yang diiming-iming itu,” kata Heri.

Bakul roti adalah seorang republiken tulen, sehingga tidak rela menggadaikan jiwa nasionalisme demi mengejar kemewahan belaka. Akhirnya, pembesar Belanda menginstruksikan para tentara berusia muda untuk berjibaku di dapur bikin roti.

Dalam panggung sejarah kuliner, perang agresi militer yang melibatkan tentara Belanda dengan kaum republiken diibaratkan keju vs singkong. Logistik Belanda ialah roti yang digarap di kota. Sementara pasokan makanan tentara pelajar disokong oleh rakyat.

Teks: Ndari Suroso; Foto: Erig

Check Also

Kenduren Wonosalam_Kegiatan ekonomi durian

vakantie.id – Ritual Kenduren”Kegiatan Ekonomi Durian” wonosalam ini di laksanakan di lapangan olahraga Wonosalam. Wonosalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.