Breaking News
Home / Trivia / Art and Culture / Anjing dalam Kehidupan Masyarakat Bali

Anjing dalam Kehidupan Masyarakat Bali

“Orang Bali menyukai anjing.Hampir di semua kediaman masyarakat Bali, anjing selalu ada sebagai hewan peliharaan. Seakan-akan anjing sudah menjadi sahabat terbaik bagi masyarakat di Pulau Dewata.”

Cerita tentang kesetiaan anjing telah ada dalam wacana keagamaan di Bali. Dalam epik Mahabarata, dikisahkan Yudistira Swarga pada parwa ke-17 tidak sudi masuk surga jika dewa tidak mengizinkan dia masuk bersamaa njing putihnya. Anjing itu setia menemaninya sejak ia meninggalkan Istana Indra prasta menuju puncak Mahameru bersama Dewa Berstana.

Kisah Yudistira itu seolah-olah menjadi realita masyarakat Bali saat ini.Banyak orang memelihara anjing layaknya keluarga sendiri. Dulu, ketika hutan-hutan masih lebat, anjing sering dijadikan teman berburu masyarakat Bali. Itu sebabnya mengapa sampai sekarang dikenal istilah “cicingborosan” (anjing pemburu). Kini, seiring menyempitnya kawasan hutan, anjing lebih banyak difungsikan sebagai penjaga rumah.

Orang Bali biasa menyebut anjing dengan asu, cicing, kuluk, atau konyong. Anjing juga berperan dalam kultur masyarakat Bali. Dulu, setiap acara odalan purnama, anjing selalu ikut dalam ritual itu. Anjing biasa dikaitkan dengan penyeimbang antara niskala dan sekala. Hubungan antara yang terlihat dan tak terlihat.Anjing Bang Bungkem misalnya, dalam sepuluh sekali biasa dijadikan korban untuk upacara membersihkan pekarangan rumah dari roh-roh jahat.

Dalam karya sastra Bali, ada Lontar Cacaran Asu yang ditemukan di Gedong Kirtya Singaraja. Isi lontar itu bercerita tentang sifat dan karakter bawaan anjing dalam berburu. Setidaknya tercatat ada 31 sifat anjing di sana, semuanya mempunyai karakter yang berbeda-beda. Orang Bali juga mempunyai tradisi menghitung atau membaca sifat anjing berdasarkan bentuknya. Cara itu digunakan untuk mengetahui sifat anjing sebelum seseorang  memeliharanya.Setidaknya ada lima karakter anjing yang dipahami dari penghitungan ini, yakni Paksa, Jaya, Guna, Ketek,dan Kiul.

Paksa, adalah tipikal anjing dengan karakter galak dan agresif. Anjing seperti ini biasanya bersifat setia dan selalu mencurigai orang lain selaintuannya. Jaya, adalah anjing yang bersifat berkuasa dan agresif. Guna, adalah anjing akan berkarakter penurut dan sangat mudah untuk dilatih. Ketek, adalah anjing dengan karakter kebiasaan yang buruk dan kotor. Kiul, adalah anjing berkarakter pemalas yang suka makan dan tidur. Kelima karakter anjing ini kemudian kerap dikaitkan dengan karakter manusia yang bermacam-macam. Meski begitu, ini bukan berarti karakter orang Bali demikian.

Di Bali, anjing dipelihara masyarakat dengan telaten dan penuh kasih sayang. Apa makanan tuannya hari itu, anjingnya juga makan itu. Cara orang merawat anjing di Bali sebenarnya bisa jadi contoh bagi masyarakat di lain tempat. Anjing-anjing di Bali diberi tempat teduh, mereka diberi kebebasan di luar rumah, dan mendapatkan perhatian layaknya anggota keluarga. Namun, hal tersebut tidak semuanya dialami anjing di Bali. Di pasar, pantai, hutan, dan tempat umum lainnya anjing liar sering terlihat dalam keadaan yang mengenaskan. Mereka terlihat kurus dengan luka di bagian tubuh dan kotor. Banyak juga para tuan yang membuang anjing-anjing mereka di tempat umum.

Populasi anjing di Bali, tak pernah ada angka yang pasti. Akan tetapi, dapat diperkirakan setiap kepala keluarga di Bali paling sedikit memelihara 1 anjing, atau rata-rata per keluarga memelihara 3 sampai 5 anjing. Isu rabies menjadi masalah baru bagi masyarakat Bali.Sejak 2008, masyarakat digegerkan dengan penyakit ini. Jumlah pengidap penyakit ini juga semakin meningkat. Pemerintah sendiri telah mengadakan vaksinasi terhadap ribuan anjing liar di Bali. Nyatanya, hal itu juga tidak bisa jadi solusi paling ampuh mengatasi wabah ini.Terakhir, Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika melenyapkan anjing-anjing liar yang diduga mengidap rabies.

Cara I Made Mangku Pastika dikecam banyak orang. Pelenyapan atau pembunuhan anjing secara massal dirasa tidak menyelesaikan masalah di Bali. Cara ini justru berlawanan dengan tradisi masyarakat Bali yang sudah sekian lama bersahabatdengananjing. Anjing dan manusia adalah sahabat. Mereka dilindungi oleh dewa. Dan barang siapa merusak persahabatan adalah mengingkari kehendakdewa

Check Also

ikan mujair

Rahasia dibalik Kelezatan Ikan Mujair Bumbu Kedisan

“Aroma semangkuk ikan mujair bumbu kedisan begitu menggugah selera makan. Ikan mujair berada tepat di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.