Breaking News
Home / Trivia / Culinary / Rujak Soto Cita Rasa Banyuwangi

Rujak Soto Cita Rasa Banyuwangi

Matahari pagi mulai merekah, suasana pusat Kota Banyuwangi nampak makin ramai. Hilir mudik pengendara jelas menjadi satu pemandangan utama. Di balik ramainya kota, warung makan Losari milik Bu Salimah pun sibuk melayani banyak pengunjung. Mereka memesan rujak soto, satu masakan khas Banyuwangi yang hingga kini terus menjadi pemikat wisatawan.

            Warung Losari Bu Salimah dengan menu spesial rujak soto terletak di Jalan Losari, belakang Masjid Jami’ Baiturrahman, Kota Banyuwangi. Meskipun tak berada tepat di pinggir jalan, tetapi banyak sekali pengunjung yang menyambangi warung Bu Salimah ini. Wisatawan dari berbagai daerah banyak yang singgah untuk mencicipi sajian rujak soto yang ditawarkan.

            Jika didengar-dengar, nama rujak soto memang terkesan unik. Secara komposisi, kuliner ini merupakan kombinasi antara rujak pecel dan soto babat. Rujak yang dimaksud menyerupai lotek di Jawa Tengah dan Yogyakarta, terdiri dari sayur kangkung, kubis, kacang panjang, mentimun, cabe, lontong, dan dicampur dengan bumbu kacang serta petis. Semua bahan itu kemudian ditaruh dalam satu mangkuk dan disiram dengan kuah soto babat. Menurut Bu Salimah, kekuatan rasa yang membuat rujak soto menjadi istimewa terletak pada campuran petisnya.

            Petis sendiri terbuat dari ikan pindang, kupang, atau udang yang dipanasi hingga mencair dan mengental, lalu dicampur dengan gula batok hingga warnanya coklat pekat dan rasanya manis. Konon, petis dibuat pertama kali sekitar abad VII. Pembuatnya adalah para nelayan atau warga yang tinggal di pesisir utara Pulau Jawa, terutama Sidoarjo. Kini petis biasa menjadi oleh-oleh khas Kota Sidoarjo dan Surabaya. Tak heran jika Bu Salimah pun memesan petis dari kedua kota itu.

            Selain petis, yang membuat rujak soto semakin istimewa adalah rasa daging babatnya. Saat memasak, daging babat terlebih dahulu direbus dengan bumbu soto hingga meresap dan empuk. “Kuncinya ya saat membuat bumbu soto dan merebus daging babatnya itu. Bumbunya bumbu soto biasa Mas, mungkin sudah bakat dari sananya jadi rasanya bisa mantep, meresap bumbunya, empuk dagingnya,” tutur Bu Salimah sambil tersenyum. Usaha rujak soto Bu Salimah ini sudah lama berdiri. Ia meneruskan usaha orang tuanya dan kini sudah berjalan selama 11 tahun. Keterampilannya meracik bumbu pun tak diragukan lagi.

            Dalam penyajiannya, semangkuk rujak soto bersanding dengan segelas es temulawak segar. Satu porsi kuliner ini dihargai 18.000. Setiap hari warung Bu Salimah buka mulai pukul 9 pagi Namun, karena banyaknya pengunjung yang datang, pukul 1 siang menu rujak soto sudah habis, lebih dari 100 porsi biasa disajikan.

            Jika diperhatikan, Banyuwangi memang daerah yang kaya akan kuliner rujaknya. Berdasarkan bahan olahannya, rujak dapat dibagi menjadi rujak pecel, rujak cuka, rujak gula merah, rujak wuni, rujak locok, rujak lethok, rujak kecut, rujak cemplung, dan rujak singgul. Sementara rujak yang paling spesial adalah rujak soto. Bahkan sebagai apresiasi, Miswandi, seorang seniman Osing pun mengabadikan dalam sebuah lagu dengan judul yang sama, “Rujak Soto”. Dan di awal lirik ditekankan bahwa rujak soto merupakan kuliner asli Banyuwangi, rujak soto asale ko Banyuwangi.

Check Also

Suasana malam kudus

Malam Kudus di Kota Kudus

Banyak orang mengenal Kota Kudus karena industri kreteknya yang terkenal. Pabrik- pabrik besar skala nasional …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.