Breaking News
Home / Trivia / Art and Culture / Belajar Nilai-nilai Kemanusiaan dari Peradaban Borobudur dalam 3rd Borobudur International Conference

Belajar Nilai-nilai Kemanusiaan dari Peradaban Borobudur dalam 3rd Borobudur International Conference

Gandawyuha adalah relief yang terpahat di 460 panel relief pada lorong dua, tiga, dan empat Candi Borobudur. Relief tersebut bercerita tentang anak muda bernama Sudhana yang berkelana mencari pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi. Dia melakukan perjalanan religi keliling India menemui berbagai guru dan para sahabat spiritual (mitreka satata). Kisah itu diperkirakan muncul pada awal abad 1 M di India Selatan kemudian menyebar ke seluruh Asia. Dalam kepercayaan Buddha Mahayana, Gandawyuha dikenal sebagai bagian terakhir atau bab 34 dari sutra besar, Sutra Avatasamka.

Cerita Gandawyuha tersebut memberikan gambaran tentang sejarah umat Budha yang mencari bentuk-bentuk kedamaian dengan mengorbankan keserakahan dan keduniawian. Kisah itu juga menjadi representasi pada sejarah Borobudur pada abad 8 masehi. Zaman di mana kemanusiaan menjadi hal utama dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya. Lalu apakah kemanusiaan tersebut masih berlaku sampai sekarang? Apakah peristiwa dalam sejarah Borobudur patut kita teladani dalam kehidupan sehari-hari? Di mana nilai-nilai kemanusiaan dalam cerita Borobudur tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah dijawab oleh para ahli dalam acara 3rd Borobudur International Conference. Acara tahunan yang ketiga ini mengambil tema “Borobudur as an Inspiration of Humanity and Civilization”. Tema tersebut diangkat dari nilai-nilai yang terdapat dalam cerita sejarah Borobudur hingga fungsi Borobudur rumah ibadah umat Budha di Indonesia.

Berbagai narasumber yang hadir seperti peneliti Diane Butler (Australia), I Made Andi Arsana, His Eminence Kyabje Dagri Rinpoche (India) menceritakan tentang sejarah masyarakat Jawa dan kehidupan pada zaman Borobudur sebagai sebuah peradaban yang menjunjung tinggi nilai keharmonisan antar umat beragama. Pada saat itu, masyarakat Jawa terpecah menjadi dua agama yani Hindu dan Budha. Akan tetapi, sejauh mereka berkehidupan bersama nilai-nilai toleransi telah ada sejak dahulu.

 Selain para peneliti, acara ini juga dihadiri oleh para tokoh nasional seperti Prof. Muhadjir Effendy (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Rini Soemarno (Menteri Luar Negeri), Dr. Arief Yahya (Menteri Pariwisata), K.H. Said Agil Siraj (tokoh agama), Yenny Wahid (tokoh agama), Hastho Bramantyo (tokoh agama), Budi Subanar (tokoh agama) dan masih banyak lagi tokoh-tokoh penting lainnya. Di forum ini, mereka membahas nilai-nilai toleransi antar umat beragama di Indonesia saat ini yang mulai retak dengan adanya iso radikalisme. Menurut sebagain tokoh ini, nilai toleransi seperti keharmonisan dari cerita Borobudur perlu kita usung kembali untuk menyembuhkan penyakit radikalisme.

Hal-hal lain yang dibahas dalam acara ini seperti pesan-pesan moril yang dapat mencerahkan dan kedamaian bagi masyarakat Indonesia. Pesan-pesan ini dirasa penting disampaikan sebab menjadi bagian dari solusi perdamaian antar umat beragama di Indonesia. Para tokoh menyampaikan beragam ide dan gagasan mereka mengenai nilai toleransi dari perpsepktif agama masing-masing. Baik Islam, Khatolik, Kristen, Budha, Hindu, dan berbagai penghayat kepercayaan lain mempunyai visi yang sama dalam berperikemanusiaan, yakni menciptakan keharmonisan bagi semua umat.

Di acara yang diseleggarakan oleh PT. TWC (PT. Taman Wisata Candi) ini, disimpulkan bersama-sama bahwa Borobudur mempunyai peranan sebagai salah satu sumber keharmonisan dalam kehidupan berperikemanusiaan di Indonesia saat ini. Tinggal apakah umat beragama di Indonesia mampu dan mau untuk memetik nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikannya sebagai jalan untuk menuju Indonesia yang damai dan sejahtera. /Danu AP

Check Also

ayam taliwang

Pedas Menagih Ala Ayam Taliwang

Masyarakat umum telah mengenal makanan khas Lombok dengan bumbu pedasnya. Pedas bukan hanya didapat dari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.