Breaking News
Home / Destinations / Desa Bali Aga Tenganan: Antara Mistisme dan Budaya Luhung

Desa Bali Aga Tenganan: Antara Mistisme dan Budaya Luhung

“Bali Timur menyimpan keindahan alam dan budaya yang unik. Selain keindahan alam bawah laut di Amed, situs bersejarah Taman Ujung, ada juga sebuah desa tradisional yang wajib dikunjungi. Desa tradisional Bali Aga Tenganan, menjadi saksi bisu persinggungan budaya Bali asli (Aga) dan budaya Hindu. Menciptakan romantisme Bali yang kaya ragam budaya.”

Perjalanan kami kali ini terhenti di sebuah Desa Tradisional Bali Aga yang terletak di Kabupaten Karangasem, Kecamatan Manggis. Sekitar dua jam perjalanan darat dari Kota Denpasar. Desa ini bernama Tenganan yang merupakan satu dari tiga desa tradisional Aga yang ada di Bali, yaitu Trunyan dan Sembiring.

Dua jam berkendara, tak lantas membuat kami lelah. Perjalanan dari Denpasar menuju Desa Tenganan terasa menyenangkan. Kami melewati garis pantai Timur pulau Bali. Tak jauh dari gapura “Selamat Datang di Kabupaten Karangasem”, kami menjumpai hamparan pasir putih dari Pantai Candi Daksa dengan bekas pelabuhan Karangasem-nya yang memikat mata. Terasa sisa-sisa kejayaan pelayaran laut kuno di belahan Timur pulau Bali ini.
Untuk mencapai Desa Tenganan, dari Pantai Candi Dasa, kami masih harus meneruskan perjalanan sekitar 10 kilometer lagi. Tepat di pertigaan dari arah Denpasar, kami memilih arah utara atau belok kiri, sesuai petunjuk jalan yang ada. Hingga akhirnya kami disambut dengan beberapa kios penjaja buah tangan khas dari Tenganan. Artinya, kami telah sampai di muka depan Desa Tradisional Tenganan.

Berbeda dengan obyek wisata lain, Desa Tenganan tidak mematok biaya masuk. Pengunjung dipersilakan memberikan uang sukarela sebagai ganti biaya masuk. Tak lupa pengunjung diminta membubuhkan tanda tangan dan nama terang beserta besar rupiah yang dikeluarkan. “Pengunjung di Desa Tenganan didominasi oleh wisatawan asing asal Australia dan Asia Timur, seperti Tiongkok,” tutur Komang (29), penjaga di ruang informasi berada tepat di samping pintu masuk ke desa.

Arsitektur Tenganan

Pertama kali menginjakkan kaki di muka Desa Tenganan, mata kami dimanjakan. Terasa betul unsur tradisionalitas arsitektur bangunan di Tenganan. Terdapat sebuah balai banjar terbuat dari balok kayu yang disusun memanjang dengan atap rumbai dan berpondasi susunan batu setinggi 1 meter. Bangunan ini berfungsi sebagai sarana pertemuan seluruh penduduk Desa Tenganan yang berjumlah 250 Kepala Keluarga. Balai banjar ini cukup besar dengan ukuran memanjang 40 meter dan lebar 3 meter. Dilengkapi pula sebuah ruangan yang juga terbuat dari kayu sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, seperti hasil panen desa.

Rumah-rumah berhadapan masing-masing menghadap barat dan timur. Terbuat dari bata merah dan batu yang ditata rapi sebagai fondasi. Sejak tahun 1965, Tenganan telah menjadi desa wisata. Rumah-rumah itu berpintu gebyog khas Bali dan memiliki ruang cukup luas. Ruangan ini berfungsi juga sebagai tempat penyimpanan hasil kerajinan, seperti kain tenun, berbagai patung dari kulit telur, pahatan dari kayu, batu, dan tembaga maupun perak.
Arsitektur rumah di Tenganan memiliki kemiripan yang serupa. Tidak ada pagar yang memisahkan rumah satu dengan yang lain. Sisi luar tembok rumah pun menjadi pemandangan yang menarik bagi kami. Sebagian besar rumah yang juga menjadi bengkel seni, menggantungkan berbagai hasil karyanya di sana. Dari berbagai bentuk patung, topeng, dan kain ikat.

Di muka rumah-rumah warga, berjajar pengrajin seni lukisan lontar. Berbekal pengerupak sebagai kuas dan kemiri yang dibakar hingga menjadi minyak, sebagai tinta. Para pengrajin ini harus konsentrasi betul. Kesalahan dalam menggores tinta minyak kemiri, tidak dapat diulang. Di sinilah letak keindahan hasil lukisan lontar dari Tenganan. – eka ningtyas

Check Also

kapal motor penumpang muria

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan – Kita hidup di negara kepulauan, tetapi transportasi penghubung antarpulau masih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.