Breaking News
Home / Featured / Indonesia dalam Prespektif Masyarakat Maritim

Indonesia dalam Prespektif Masyarakat Maritim

Obrolan tersebut sungguh membuat kehidupan di kapal terasa sangat nyaman, bahkan boleh dikatakan terasa hangat seperti berada di dalam rumah sendiri. Rumah yang terbangun justru karena pertemuan dengan “yang berbeda dan yang tak disangka-sangka”.

Selalu ada cerita dan kenangan yang menarik saat seseorang bepergian dengan kapal untuk menyeberangi wilayah perairan. Berapa pun lamanya perjalanan itu, kehidupan akan terasa sangat berbeda. Seluruh tatapan mata hanya melihat hamparan air dan birunya langit seperti bertemu dalam satu titik.

Perasaan kagum jelas akan muncul saat itu, terutama saat kapal meninggalkan dermaga dan mata mulai melihat perahu nelayan yang melintas di tengah samudra luas. Di sisi lain, tampak indah tersusun rapi keramba-keramba ikan di antara gugusan pulau-pulau kecil yang tampak sunyi dan sendiri.

Pengalaman melihat keindahan itu saya alami beberapa bulan yang lalu saat berkunjung ke Pulau Sumatra. Waktu itu, saya merasakan perjalanan kapal menyeberangi Selat Sunda hampir empat jam. Di dalam kapal tampak keramaian orang sehingga membuat kapal berjalan sangat lambat. Untungnya, waktu itu masih pagi sehingga mata bisa menikmati keindahan laut untuk sekadar menghilangkan rasa jenuh.

Di lantai paling atas tempat ruang terbuka dengan deretan kursi dan meja kecil, sungguh menjadi idaman banyak penumpang kapal. Mereka tampak mengabadikan keindahan laut dengan kamera. Saya pun tak mau ketinggalaan. Sementara itu, ramainya penumpang membuat mata kita mudah untuk bertemu pandang. Perkenalan ringan, obrolan singkat, dan saling menawarkan bekal menjadi bagian dari aktivitas di dalam kapal.

Laut sebagai ruang pemisah antardaratan sekaligus sebagai ruang pertemuan, terasa sangat mengasyikkan lewat obrolan-obrolan itu.  Kita sama-sama memiliki nasib yang sama: jauh dari rumah, berada dalam ketidakamanan hidup -bukankah keselamatan sangat tergantung pada kapal, sementara fasilitas dan keadaan kapal di Indonesia sangat minim, dan yang terpenting saya menjadi sadar bahwa saya masih berada di dalam kapal dan bersama warga Indonesia meskipun berasal dari daerah-daerah yang berbeda.

Ada yang berasal dari Medan, Lampung, ataupun sesama Yogyakarta. Dengan logat bahasa Indonesia yang berbeda-beda, mereka bercerita tentang tujuan perjalanan dan pengalamannya. Obrolan tersebut sungguh membuat keadaan di kapal terasa sangat nyaman, bahkan boleh dikatakan terasa hangat seperti berada di rumah sendiri. Rumah yang terbangun justru karena pertemuan dengan “yang berbeda dan yang tak disangka-sangka”.

Indonesia memang kaya akan keindahan lautnya. Melewati Selat Sunda, melihat birunya laut, pulau-pulau kecil tampak samar dari kejauhan, dan perahu-perahu nelayan yang bersandar di dermaga. Sementara diri saya di dalam kapal, pertemuannya dengan banyak orang semakin meyakinkan bahwa Indonesia adalah negara yang juga kaya akan keberagamannya. Kesan itu masih ada dan tentu akan kembali terasa suatu ketika saat kembali menyebrangi lautan Indonesia.

 

 

 

 

Check Also

Suasana malam kudus

Malam Kudus di Kota Kudus

Banyak orang mengenal Kota Kudus karena industri kreteknya yang terkenal. Pabrik- pabrik besar skala nasional …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.