Breaking News
Home / Destinations / Surga Karimunjawa yang Terlewatkan
kapal motor penumpang muria
kapal motor penumpang muria karimunjawa

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan

Surga Karimunjawa yang Terlewatkan – Kita hidup di negara kepulauan, tetapi transportasi penghubung antarpulau masih saja kurang diperhatikan, kecualimodeltransportasi untuk tujuan pariwisata. Demikian yang kami lihat dalam penyeberangan dari Pelabuhan Pantai Kartini menuju Pelabuhan Karimunjawa, Jepara.

Birunya Laut Jawa, Tak Sebiru Gladak Kami

Perjalanan panjang yang memakan waktu enam jam membuat kami memilih untuk melepas penat di atas kapal. KMP Muria terdiri atas tiga bagian bertingkat. Pada lantai dasar digunakan parkir berbagai kendaraan dan barang-barang besar milik penumpang. Lantai dua berisi tiga ruangan untuk penumpang, sebuah ruangan VIP dengan pendingin ruangan dan dua ruangan lainnya tanpa pendingin ruangan. Udara didapat dari deretan jendela besar yang ada di sekeliling ruangan. Terasa angin sepoi-sepoi menyapa lembut wajah kami.

Layaknya ruangan berkelas ekonomi, sebagian besar diisi oleh masyarakat Karimunjawa dan wisatawan domestik. Namun, ada juga wisatawan mancanegara yang ikut bergabung bersama kami di tempat tersebut. Di hadapan kami, ada sebuah televisi sebagai satu-satunya hiburan di atas kapal. Televisi tersebut menayangkan film-film, baik film Indonesia maupun film luar.

Itu di lantai dua. Lantai satu beda lagi ceritanya. Sebuah gerbong luas, tak bersekat, dan sesak oleh bawaan penduduk Karimunjawa. Di sana ada motor dan mobil yang turut menyebrangi laut. Namun, bukan itu yang menarik. Belanjaan masyarakat lokalah yang menjadi daya tarik. Ada bahan bangunan, sembako, binatang ternak, ikan, bahkan BBM. Hal itu sungguh mencengangkan.

Masalahnya adalah di Karimunjawa harga bahan makanan sangat mahal. “Bahkan harga beras bisa dua kali lipat jika musim sedang susah,” terang Mujiyati penduduk lokal yang kami temui di Kemujan. Harga bensinperliternyasaja bisa sampai Rp15.000,00. Itu saja susah didapat, seperti yang kami alami pula ketika liputan. Hal ini terjadi karena satu-satunya akomodasi pendistribusian yang sah hanya melalui Kapal Muriasaja.

Dua jam sebelum KMP Muria merapat di dermaga Pelabuhan Karimunjawa, kami menyempatkan diri untuk naik ke lantai tiga. Di sana terdapat sebuah ruang kerja nakhoda, ruang muallim, mushala, ruang makan bagi awak kapal, dan geladak kapal yang luas. Saat kami berdiri di atas geladak tersebut, sepanjang mata hanya disuguhi warna biru yang indah. Sementara gelombang laut yang tidak terlalu kencang semakin menambah tenangnya perjalanan kami.

Puas memandang lautan, kami akhirnya turun ke lantai satu. Di pojok tangga, kami bertemu seorang wanita setengah baya yang duduk sambil menunggui barang-barangnya. Sumarmi, nama wanita itu, merupakan seorang pedagang sate kambing di Karimunjawa. Ibu Sumarmi telah setia menggunakan KMP Muria sejak pertama kali membuka warung sate di Karimunjawa pada tahun 2006. Beliau hampir setiap akhir pekan kembali ke daratan Pantai Kartini untuk berbelanja sembako dan beberapa ekor kambing untuk disembelih di Karimunjawa. Ketika ditanya suka-duka naik KMP Muria, beliau hanya tersenyum.

Pukul 15.30kapal akhirnya merapat di dermaga Pelabuhan Karimunjawa. Satu per satu kendaraan keluar dari perut kapal. Di depan kami sudah banyak penjemput yang datang. Mereka yang berasal dari agen wisata membawa mobil-mobil penumpang dan papan nama. Sementara itu, warga lokal biasanya dijemput menggunakan sepeda motor ataupun mobil angkutan barang.

 

Menggapai Jembatan Penghubung Karimunjawa-Kemujan

Perjalanan kami tidak berhenti di Karimunjawa. Kami masih memerlukan waktu selama lebih kurang satu jam untuk menuju Pulau Kemujan yang letaknya berada di ujung utara Kepulauan Karimunjawa. Untuk menuju Pulau Kemujan, kami melewati sebuah jalan berukuran sedang yang cukup untuk dilewati dua kendaraan roda empat. Jalanan ini merupakan satu-satunya penghubung antara Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan.

Pada sepertiga perjalanan, kami masih menemukan rumah-rumah warga seperti yang kami temui di sepanjang pantai utara Jawa. Selain rumah, juga masih ditemui hutan bakau. Jalanan yang kami lewati tidaklah mulus. Banyak lubang di sana-sini sehingga kami harus berhati-hati. Di sebelah kiri, terdapat berbagai pantai yang masih bersih dengan pasir putihnya. Matahari yang hampir turun membuat perjalanan kami tidak begitu panas.

Tujuan kami adalah sebuah rumah di dekat Dermaga Mrican, Desa Kemujan, Pulau Kemujan. Antara Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan hanya dibatasi sebuah jembatan kecil. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kami telah berada di pulau lain.

Kami tiba di pinggir Dermaga Mrican tepat saat matahari hampir terbenam. Lautan yang tenang, semburat merah dari matahari, dan indahnya pemandangan pantai membuat lelah kami hilang seketika. Ya, kami tidak hanya dapat melihat satu kali matahari terbenam di Pulau ini. Masih ada dua, tiga,bahkan lima keindahan matahari terbenam yang akan kami lihat nanti. Tentunya, bila langit tidak muram!

Check Also

buleleng

Nostalgia Di Kota Tua buleleng

Nostalgia di kota tua buleleng – “Bali benar-benar dimanjakan alam. menikmati kehangatan tropis tanpa udara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.