Breaking News
Home / Destinations / Milenial pun Lirik Destinasi Museum

Milenial pun Lirik Destinasi Museum

Minggu siang itu, Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya, Jakarta, ramai pengunjung.

“Apa aku ini sudah pantas masuk museum? Wong aku enggak pakai kacamata dengan tali sepatu,” itulah salah satu polah pelawak Atmonadi dari Jogja dalam banyolannya. Bagi persepsi generasi Atmonadi, beliau wafat pada tahun 1981, museum tak ubahnya sebagai penyimpan benda kuno yang makin lama dekil dan kusam. Mungkin pula penuh debu.

Tak terbayang ‘kan mereka bahwa museum bisa tampil handsome n glowing? Ternyata masa lalu pun seksi saat didandani. Bahkan ketika Night at Museum yang secara apik digarap di layar lebar, tak lama kemudian American Museum of Natural History, New York, penuh sesak oleh kepenasaranan anak-anak dan remaja yang dibangkitkan oleh film komedi berteknologi animasi itu.

Mah, yang besar di meja itu? Itu radio sayang. Melek informasi masa itu adalah suka mendengarkan radio

Museum-museum kita pada masa terakhir ini pun tampak berbenah. Pemerintah Pusat dan beberapa pemkot maupun pemkab telah relatif memberi perhatian, baik pada stilisasi gedung, teknik kurasi koleksi, sdm para pemandu (tour guide), maupun kerjasama kelembagaan yang diinisiasi para pemimpin museum demi mengangkat harkat maupun marwah museum.

“Saya tak ingin pengunjung, khususnya anak-anak sekolah, terbebani dengan mencatat, sampai mereka tak tahu esensi dan pesan utuh dari isi museum,” ujar Isti Yunaida, seorang museolog yang menjadi bagian dari SDM Museum Ulen Sentalu, Jogjakarta.

Kegembiraan dalam kerja lulusan UGM jurusan Sejarah ini, tatkala ia berhasil menanamkan pengertian dan isi museum kepada para pengunjung. “Masa lalu itu sangat banyak mengajarkan kearifan, juga jejak-jejak penting bangsa dalam pencapaian teknologi, yang bisa menjadikan inspirasi generasi kini,” tegas Isti.

Perubahan mindset tentang museum pun mewujud. Bahwa penghadiran masa lalu, bahkan masa depan ke masa kini, akan menjadi aspek retrospektif (pesan/kesan masa lalu) sekaligus aspek perspektif (pesan/kesan di masa mendatang).

Pemandu museum yang andal akan memberikan kesan mendalam dan tambahan pengetahuan bagi pengunjung

Siang itu, aneka pengunjung menyambangi Museum Sumpah Pemuda. Sebagian memang anak sekolah yang ditugasi oleh sekolahnya; sebagian oleh keramaian Paskibra yang akan berupacara di lapangan Museum pada Hari Sumpah Pemuda.

Koran, busana, tas kerja, adalah penanda-penanda modernitas yang tengah menyapa tradisionalitas

Di sela itu, saya mendapati dua remaja putri yang datang secara mandiri. Murni dan Syifa, remaja yang duduk di SMU bilangan Depok, Jabar, ini sengaja datang. Kok suka ke museum, enggak ke mal?

“Museum itu seru, kita bisa liat hal-hal yang tak ada di masa sekarang,” ujar mereka saling berbarengan. Ternyata, dua anak itu memang janjian di sini. Syifa sudah pernah ke Museum Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, dan Murni pernah ke Museum Fatahillah, Kota, Jakarta Utara.

Setelah itu kusaksikan dua generasi milenial itu berselfi-ria. Tentu mereka akan mengunggahnya ke IG maupun medsos miliknya. Museum yang lebih membekali aspek spirit ini pun ternyata tak kalah seksi, dan mengkini. Foto dan Teks: Wakhid

Check Also

karnaval lasem

Karnaval Lasem dari Masa ke Masa

Karnaval lasem dari masa ke masa. Pasukan bersenjata tombak membentuk barisan di pelataran Masjid Agung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.