Breaking News
Home / Featured / Si Pitung Robin Hood dari Marunda

Si Pitung Robin Hood dari Marunda

Saat memasuki perkampungan Marunda, Jakarta Utara, yang selalu diingat orang adalah kampung si Pitung.

Memang di beberapa papan penunjuk jalan di sekitar jalan arteri Tanjung Priok terpampang informasi arah menuju Kampung Si Pitung. Menuju rumah Si Pitung memang cukup jauh. Setelah melalui kawasan pelabuhan dengan jalan besar, barulah menuju jalan agak sempit dan jembatan penyeberangan yang kanan-kirinya terhampar hutan bakau. Semakin masuk menuju ke rumah Si Pitung, jalan yang dilalui semakin mengecil. Namun pemandangan sekitarnya cukup menyejukkan karena hamparan hutan bakau yang menjadi oksigen bagi wilayah pesisir Jakarta ini.

Rawa bakau di sekitar rumah si Pitung di Marunda

Kemudian di situ terlihat sebuah kompleks yang dikelilingi pagar tembok dengan papan besar bertuliskan Situs Si Pitung yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Untuk masuk ke kompleks tersebut cukup membayar Rp5000 per orang. Sayangnya tidak ada pemandu wisata saat itu. Di dalamnya ada beberapa rumah panggung. Namun yang utama adalah rumah panggung utama bercat coklat. Itulah rumah Si Pitung, pahlawan rakyat Betawi. Sedangkan bangunan panggung lainnya adalah bangungan baru yang digunakan untuk berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan Betawi. Di halaman  depan rumah Si Pitung dibangun sebuah panggung kecil karena sering ada pertunjukan lenong di malam hari dan ditonton oleh umum.

Rumah panggung Si Pitung ini mengingatkan rumah panggung di Sumatra dan Kalimantan. Rumah kayu ini dibangun dengan model panggung supaya saat banjir rob, air laut tidak masuk ke dalam rumah. Rumah Si Pitung memang menghadap pesisir Marunda yang dipenuhi dengan hutan bakau. Rumah panggung adalah salah satu rumah khas Betawi. Terutama bagi masyarakat Betawi yang tinggal di pesisir. Ciri khas rumah adat Betawi adalah memiliki teras luas karena bisa menjadi tempat berkumpul masyarakat.

Teras rumah Pitung ada di bawah tangga yang kini sudah diberi ubin. Dahulunya masih tanah. Di ruang depan adalah ruang tamu. Terdapat meja kursi kayu kuno. Kemudian di ruang tengah ada beberapa kamar, salah satunya adalah kamar Si Pitung dengan perabotan dipan. Dan belakang sebuah ruangan kosong mungkin dulunya adalah dapur dan ruang makan. Jendela rumah cukup lebar. Sehingga setiap jendela dibuka, pemilik rumah langsung melihat pemandangan laut Pantai Marunda. Kisah Si Pitung hingga kini masih menuai kontroversi. Informasi sosok pembela rakyat kecil Betawi ini memang minim, sehingga kisah hidupnya hanya berdasarkan informasi lisan.

Buku berjudul Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api karya Margreet van Till yang dibedah di Kampus Universitas Indonesia pada Februari 2019, mengungkap siapa Si Pitung ini. Ia mengambil sumber lisan yang dituturkan secara turun-temurun kepada keturunan dan sesepuh di Marunda. Dalam penuturan para tetua di Marunda disebutkan bahwa Pitung adalah seorang pembela rakyat kecil.

Beranda depan sebagai ruang tamu keluarga si Pitung, tempat berkumpul keluarga maupun orang-orang yang bertamu

Ia melawan Belanda dan tuan tanah yang menindas masyarakat Betawi dan kelompok petani. Bahkan sosok Pitung dihadirkan dalam film Si Pitung Benteng Betawi yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen. Film era tahun 1970 ini cukup sukses. Sosok Pitung digambarkan sebagai sosok berani. Ia pintar mengaji, silat, dan peduli terhadap warga. Pakaian yang dikenakan adalah pakaiankeseharian pria Betawi, terdiri dari baju sadariah (koko) dan celana komprang ukuran tanggung. Kemudian ditambah dengan sarung yang digulung dan dikaitkan pada pinggang. Lalu memakai sabuk warna hijau serta peci berwarna merah. Ia adalah sosok Robin Hood dari Marunda.

Berbasis pada sumber-sumber pemberitaan pers Belanda saat itu terhadap jejak si Pitung, Margreet menyimpulkan, si Pitung dianggap musuh. Akhirnya ia meregang nyawa ditembak.

Si Pitung berasal dari Kampung Rawa Belong. Wilayah ini pada akhir abad ke-19 termasuk Ommelanden (pinggiran Batavia) yang sulit dikendalikan Belanda.

Ayah Si Pitung bernama Piung dan ibunya Pinah. Orangtuanya mengirim Si Pitung belajar di pesantren milik Haji Naipin. Di luar kegiatan pesantren, Si Pitung membantu jualan kambing milik ayahnya. Suatu hari Si Pitung kena musibah. Seorang bandit mencuri uang hasil jualan kambingnya.

Peristiwa tersebut menjadi pemicu Si Pitung muda melakukan pencuriannya sendiri, tulis Margreet. Si Pitung mempelajari silat demi menemukan bandit pencuri hasil jualan kambingnya. Dari sinilah awal mula Si Pitung bersua dengan para bandit. Ia pun menjadi jagoan di kalangan bandit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.