Breaking News

Tidak cukup sehari menjelaskan satu destinasi kultural Jogja

vakantie.id Wawancara dengan Deddy Pranowo Eryono

Jogjakarta adalah the living museum, tempat masa lalu yang tak henti menginspirasi, dan masa kini yang senantiasa memperbarui diri. Jogja pun sarat narasi, yang mengundang para wisatawan mereguk petualangan dan kisah kota yang telah berusia 264 tahun semenjak Perjanjian Giyanti ini.

Deddy Pranowo Eryono adalah salah satu penjaga kearifan lokal Jogja. Bukan sebagai budayawan, melainkan sebagai pengusaha hotel di bilangan tempat yang tak kalah legendaris, yakni kawasan Prawirotaman, yang berlokasi persis di sebelah Selatan Kraton Nyagyogyakarto Hadiningrat. Ia adalah pemilik dan pengelola Hotel Ruba Grha, yang berlokasi di Jalan Mangkuyudan 1, Jogja.

Hptel tidak bisa hdup dari peak season semata, ujar Deddy

Sebagai salah satu putra asli Jogja, juga kedudukannya sebagai Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, ia pun relatif fasih membincangkan legenda Jogja, serta pengembangan wisatanya. Dan inilah perbincangan bernas bersamanya.

Bisa dijelaskan bagaimana wilayah Prawirotaman menjadi salah satu kawasan hotel dan penyedia layanan bagi para wisatawan yang datang ke wilayah Jogja?

Prawirotaman adalah wilayah yang dahulu tempat dimukimkannya prajurit Kraton Prawirotomo dan Mantrijero oleh Kanjeng Sinuwun Sultan Jogja. Mereka ini adalah prajurit tempur, namun kemudian lebih menjadi prajurit simbolik, mereka kemudian menjadi penjaga budaya Kraton dengan rumah-rumah joglo bagi para perwiranya, dan para tamtomo, yang rata-rata berhalaman relatif luas.

Kawasan ini kemudian mengikuti derap ekonomi zaman. Kala batik menjadi komoditas penting, orang-orang Prawirataman pun sigap menjadikan wilayahnya sebagai sentra industri batik, khususnya pada awal abad ke-20 hingga dekade tahun 1960-an. Para juragan batik asal Prawirotaman pun muncul untuk menjadi penyedia sandang ke wilayah Jawa pada masanya.

Saat ekonomi batik mengalami stagnasi, para juragan Prawitotaman pun bergeliat lagi. Mereka mencari usaha yang sesuai dengan masa dan kondisi wilayahnya. Nah, saat arus wisatawan mulai mendatangi Jogja, kesempatan mereka menjadikan wilayahnya sebagai guest house, dan kemudian hotel. Mengingat mereka memiliki rumah besar dan tanah yang luas, perubahan menjadikan rumah menjadi guest house atau hotel tidaklah begitu sulit.

Tahun berapa itu terjadi?

Tahun 1985. Mulai tahun itulah kawasan Prawirotaman menjadi kampung wisata.

Apa yang menjadikan kawasan Prawirotaman ramai oleh para turis?

Ya, kami waktu itu kawasan Prawirotaman paling siap untuk menyambut para wisatawan yang butuh penginapan saat mereka berada di Jogja. Hotel besar waktu itu kan hanya Hotel Garuda, Mutiara, Hotel Trio, dan Hotel Ambarukmo (kawasan Pasar Kembang di dekat Stasiun Tugu pun sudah siap menyambut wisatawan). Namun Prawirotaman memiliki kesiapan kultural sebagai kawasan wisata yang berbasis budaya. Kesopanan kita tonjolkan.

Saya sendiri sering mengingatkan bila wisatawan asing dari Barat, agar tetap memperlihatkan kesopanan bila di depan publik, jangan berciuman di muka umum, misalnya. kesopanan, jiwa ramah-tamah orang Prawirotaman yang suka gotong-royong, saling menolong, itu menjadi kekuatan budaya yang dimiliki kami.

Satu sisi menjaga kearifan budaya, sementara di sisi lain menjadi kawasan internasional. Bagaimana Prawirotaman menjaga kedua hal tersebut agar berjalan seiring?

Dengan kesiapan dan kearifan budaya, hal tersebut malah berjalan sinergis. Kami senantiasa menawarkan destinasi budaya. Ada museum batik, ada prajurit kraton Prawirotomo dan prajurit Mantrijero di kawasan kami, yang sampai sekarang tetap menjadi prajurit kawal simbolis Kraton Ngayogyokarto, ada monumen Hantu Maut (monumen yang mengabadikan orang-orang Prawirataman yang tergabung dalam kesatuan Hantu Maut yang dipimpin mantan KSAD Jenderal Widodo semasa Perang Kemerdekaan RI).

Selain kafe-kafe yang menjamur di sepanjang Prawirotaman, banyaknya wisatawan yang menginap di Prawirotaman juga telah menumbuhkan UMKM berupa industri cendera mata, seperti pakaian surjan, iket.

Soal kuliner, bagaimana?

Secara spesifik, tidak ada, tapi kalau ke Pasar Prawirotaman, banyak jajanan pasar yang khas Jogja, misalnya gudangan. Teryata turis asing suka juga. Mereka penasaran dengan buah “mlanding” yang kecil-kecil itu. Mereka yang vegetarian, suka bertualang rasa, mencoba sayur-sayuran khas tersebut. Tapi kadang saya ajak tamu saya ke sate klathak. Nah, biar seperti hotdog, satenya ditaruh di sela roti, bukan nasi, eee, mereka bisa menikmatinya, haha.

Nah, sekarang, Pasar Prawirotaman sedang dibangun, rencananya berlantai empat. Pasar ini dikemas dengan citarasa modern dan internasional. Di lantai empat nanti akan ada kafe, juga panggung budaya. Nanti pementasan-pementasan budaya Jogja dan budaya Jawa akan disuguhkan pula. Selain tetap akan menjadi pasar tradisional namun dengan tampilan yang lebih bersih.

Check Also

Handsanitizer

Handsanitizer Langkah Hidup Sehat dan Cegah Virus Corona

vakantie.id – Indonesia sampai dengan hari ini masih disibukkan dengan wabah virus corona yang berasal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.